
| Basic Homeschooling |
| Mulai Homeschooling |
| Informasi Dasar |
| Landasan Hukum |
| Metode & Kurikulum |
| Bahan Ajar |
| Komunitas |
| Berbagi Cerita |
| HS Yudhis & Tata |
| BERMALAM DI LUAR RUMAH |
| Cerita Eyang Putri | ||||||
| Written by Eyang Putri | ||||||
| Wednesday, 02 May 2007 | ||||||
Kemarin Tata telepon sambil nangis,”Eyang putri di mana?“ “Eyang Putri lagi kerja, pulangnya malam,” kataku. Kebetulan aku sedang tak di rumah karena harus membantu menyelesaikan buku Bonsai Bu Aziz. Sementara itu, Tata sudah ada di rumah Cipinang. “Tata nggak mau pulang, Tata mau nginep sama Eyang Putri,” kata Tata. “Begitu ya?” jawabku antusias karena memang aku sudah kangen dengan kedua cucuku. Aku pasti senang kalau dititipi cucu. Malam hari sesampai aku di rumah, ternyata mereka masih menunggu aku datang. Pada awalnya Lala sekeluarga memang niat bermalam di Cipinang. Namun mendadak Lala dan Aar harus pulang karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sementara itu, Yudhis dan Tata tetap mau menginap karena rencananya memang mau menginap. Aku memperhatikan dialog anak beranak, seru juga. Yudhis memberikan alasan, “Sudah bawa baju kok nggak jadi nginep, bu”. Akhirnya mereka sepakat. Ibu Lala dan Bapak Aar pulang, Yudhis dan Tata nginep bersama Eyang Putri 2 malam. Tata berjanji kalau malam nggak akan mencari ibu Lala minta ASI. Tata memang sudah waktunya disapih karena umurnya sudah 2,5 tahun, tapi masih menyusu. Untuk Yudhis, Ibu Lala banyak pesanan jadwal belajar. Minggu ini jadwal belajar Yudhis temanya tentang kereta api. Yudhis bahkan sudah membawa bahan mainan rakitan dari kayu balsa berbentuk miniatur kereta api. Ibu Lala juga pesan kepada Yudhis supaya latihan piano 2 lagu, membaca Koran "Berani" dan memilih sekaligus membaca artikel untuk diceritakan kembali. Semua pesan ibu Lala disepakati Tata dan Yudhis. Dengan entengnya mereka melepaskan bapak dan ibunya pulang. Semalaman seperti biasa kalau ada mereka, sebelum tidur cuci kaki, sikat gigi, ganti baju tidur, matikan lampu, mendongeng dan bernyanyi sebentar. Mereka langsung tertidur nyenyak. Membiasakan anak tidur di luar rumah dan tak selalu bersama orang tua menurutku adalah hal yang baik, menjadikan anak cepat mandiri. Asalkan, sebelum dilepaskan mereka sudah diberi tahu tentang berbagai tata krarma berkomunikasi dengan orang lain. Karena Yudhis dan Tata masih kecil, tentu bermalamnya masih di rumah keluarga terdekat. Mereka belajar tentang komunikasi yang lebih luas, bahwa keluarga itu bukan hanya kakak, adik, ibu dan bapak saja. Tapi juga ada Eyang Putri, Eyang Kakung, Eyang Buyut, Oom, tante, saudara sepupu dan lainnya. Aku jadi ingat, waktu aku kecil dulu, ayahku sudah membiasakan kami anak-anaknya yang 5 orang untuk bermalam di rumah keluarga. Pada kesempatan yang baik, ayah dan ibuku mengajak kami pergi ke rumah eyangku yang tinggal di Solo (Jawa Tengah) dari pihak ayah dan di Lahat (Sumatera Selatan) dari pihak ibuku bergantian. Sampai umurku lebih setengah abad ini, peristiwa liburan kecil itu tak pernah terlupakan. Perjalanan panjang menggunakan mobil, kereta api, bis, kapal laut bahkan kapal terbang merupakan kenangan manis. Aku selalu ingat kalau aku punya saudara di sana, di sini dan di situ. Ayahku rajin memberikan tebakan nama-nama mereka, kami berebutan untuk mengingatnya. Biasanya ayahku membuat foto dan nanti di rumah di ulang lagi pertanyaannya. Inilah yang membuat komunikasi keluarga besar semakin baik dan akrab walaupun eyangku, bahkan ayahku semua sudah tiada. Eyang Putri selalu jadi sosok yang mudah diingat semasa anak-anak. Kedua eyangku dulu senang masak. Eyang dari ayahku rajin dan pandai mendongeng. Dongengnya seru-seru, pakai lagu Jawa. Pokoknya antara ngerti dan nggak ngerti, kami dulu nggak bosen tuh mendengar dongeng yang sama berkali-kali. Sampai pada suatu saat aku berani ke Solo ikut saudara tanpa orang tua hanya pengin mendengar dongeng eyangku. Seingatku, waktu itu aku masih SD. Semenjak itu ayahku mulai bertanya padaku dan adik-adikku tentang kampung halaman teman-teman dekatku di sekolah. Sejak saat SMP dan SMA, mulailah aku menikmati pergi ke rumah keluarga teman-temanku di saat libur. Pada umumnya mereka menerimaku dengan baik. Semuanya berjalan menyenangkan. Namun di kemudian hari aku baru tahu, semua kegiatanku itu tetap dipantau oleh ayah dan ibuku. Diam-diam mereka menelepon keluarga yang aku datangi. Di dalam keseharian ayah dan ibuku selalu mengajari kami untuk tertib di meja makan. Menurut beliau, menghadapi rejeki dari Tuhan harus penuh rasa syukur, tak lupa berdoa. Menikmati makanan dengan baik, tak boleh ada nasi sisa. Ambil secukupnya dan harus bertanggung jawab menghabiskannya. Untuk yang terakhir, ayahku memberikan ilustrasi, “Bayangkan kalau setiap pagi sarapan kamu meninggalkan nasi 7 butir saja di piringmu dan ini dilakukan oleh sejuta orang dari ratusan juta penduduk Indonesia, berapa karung kita telah menyia-nyiakan beras? Itu baru nasi, belum lauk-pauknya. Dan sehari kita tidak makan sekali kan??? “ Ah ayahku ini, bikin kami berlima jadi serius membersihkan piring makan kami. Dan kebiasaan ini berlanjut sampai pada anak-anakku Lala dan Andito. Harapanku, sikap hormat terhadap rezeki Tuhan itu akan terus menular ke seluruh anak cucuku. Sebagai anak kecil kebiasaanku ini jadi ikut menular ke rumah-rumah tempatku menginap. Para orang tua saling bercerita sambil tertawa-tawa, menceritakan aku yang mengingatkan teman-teman kecilku dulu untuk tidak membuang nasi. Duuh padahal aku serius banget. Aku tak ingin membuang makanan. Di kemudian hari, aku merasakan manfaatnya berani bermalam di rumah orang. Inilah yang mungkin membuatku nyaman-nyaman saja di saat Lala dan Andito melakukan hal yang sama. Bahkan sampai suatu saat Lala pamitan ikut pertukaran pelajar ke Amerika dan Andito ke Jepang. Banyak manfaat positif dan hikmah memberikan kepercayaan kepada anak-anak untuk berinteraksi di luar rumah. Pagi tadi Yudhis dan Tata bangun. Setelah mandi dan sarapan, Yudhis latihan piano, membaca koran dan menceritakan kembali apa-apa yang sudah dibacanya. Pagi itu, alih-alih aku yang mau bercerita tentang kereta api, Yudhis malah sudah membuat pertanyaan lebih dulu, “Ayoo Eyang Putri... apa nama sopir kereta api ?” Kemudian dia jawab sendiri, “Masinis !!”. Terus Yudhis melanjutkan,“Di mana ada kereta api magnet? Di mana ada kereta api antar-negara? Apa beda subway dengan busway?....” Wah wah wah, Eyang Putri harus lebih banyak lagi nih bacaannya. Pada saat Yudhis mulai merakit kereta api kayu balsanya, Eyang Putri mulai rada kerepotan. Untung ada Oom Andito datang dan membantu memandu bagaimana cara merakit yang mudah. Yudhis dan Tata sibuk dengan kegiatannya. Mereka bisa belajar di mana saja dan dengan siapa saja. Di saat saudara-saudara dan teman-temannya belajar di sekolah, cucu-cucuku belajar di rumah. Inilah pilihan orang tuanya untuk mereka. Tampaknya, Yudhis dan Tata sangat menikmati. Add as favourites (51) | Quote this article on your site
Write Comment
Powered by AkoComment Tweaked Special Edition v.1.4.6 |
||||||
| < Prev | Next > |
|---|